Buku: SERBA SERBI KESEHATAN GIGI & MULUT (click)

Persembahan Bukune dan GigiSehatBadanSehat

DENTAL & ORAL HEALTH (click)

Beragam informasi mengenai kesehatan gigi dan mulut.

GENERAL HEALTH (click)

Perluas wawasan Anda mengenai dunia kesehatan.

CELEBRITY & HEALTH (click)

Kumpulan kisah para selebritis dunia dan kesehatannya.





Dapatkan buku kami "Serba-Serbi Kesehatan Gigi & Mulut" di toko buku terdekat. Diterbitkan oleh penerbit buku anak muda Bukune. Selengkapnya: Buku: SERBA SERBI KESEHATAN GIGI & MULUT

Selasa, 30 Maret 2010

Panduan Penggunaan Jarum Protaper

protaper instrument
Prosedur ekstirpasi reaming filing (ERF) dalam perawatan endodontik merupakan tantangan tersendiri bagi dokter gigi. Untuk mempermudah prosedur ERF, salah satunya mungkin Anda dapat mempertimbangkan penggunaan jarum Protaper. Preparasi saluran akar gigi pun relatif menjadi lebih mudah dan cepat. Berikut panduan penggunaannya disertai gambar.


Selengkapnya...






Perhatian:
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.



Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan.

Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.


Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Panduan Penggunaan Jarum Protaper”  »»

Omega 3 Juga Dapat Melawan Bakteri Di Dalam Mulut

omega 3
Ada bermacam-macam bahan-bahan anti-bakteri untuk melawan kuman-kuman penyebab penyakit di dalam mulut, seperti diantaranya triclosan, xylitol, dan sebagainya. Namun, tentunya para ilmuwan tidak berhenti begitu saja. Mereka akan terus melakukan inovasi-inovasi untuk menemukan bahan lain yang mungkin saja lebih baik daripada yang ditemukan sebelumnya.

Penelitian dari Amerika Serikat menyatakan bahwa omega 3 ternyata juga dapat membantu meningkatkan kesehatan rongga mulut karena memiliki efek anti-bakteri. Aktivitas anti-bakteri yang dimiliki omega 3 ini dikatakan cukup kuat untuk melawan berbagai bakteri patogen di dalam mulut.

Dalam dosis yang relatif rendah, EPA (eicosapentaenoic acid), DHA (docosahexaenoic acid) dan ALA (alpha-linolenic acid), dengan asam lemak etil ester mereka, ternyata dapat menghambat pertumbuhan berbagai bakteri penyebab penyakit di dalam rongga mulut seperti Streptococcus mutans, Candida albicans, dan Porphyromonas ginigivalis.

Dr Brad Huang dan Dr Jeff Ebersole dari Center for Oral Health Research di University of Kentucky's College of Dentistry menuliskan bahwa sampai sekarang, ini merupakan penelitian pertama yang memperlihatkan aktivitas anti-bakteri yang signifikan dari asam lemak omega 3 dan ester-nya melawan bakteri patogen di dalam mulut.
mouth health
Dan sekarang para peneliti ini merencanakan untuk mempelajari lebih lanjut mengenai aktivitas ini seperti misalnya mengenai dosis optimal penggunaan, farmakokinatik, dan semacamnya serta mencoba menerapkannya ke dalam produk-produk tertentu seperti misalnya permen karet.


Source: Dentistry.co.uk




Perhatian:
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.



Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan.

Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.


Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Omega 3 Juga Dapat Melawan Bakteri Di Dalam Mulut”  »»

Konsultasi Kesehatan 30 Maret 2010

Pertanyaan:
gusi saya merah&gusi graham sangat tipis,pangkal akar graham saya nampak&grahamnya sedikit goyang,terasa gatal,sakit.apa yg terjadi;bagaimana cara mengatasinya?


Tia (31 tahun), pekanbaru.


Jawaban:
Kondisi yang Mbak Tia alami dikenal dengan istilah periodontitis atau peradangan dari jaringan periodontal (jaringan pendukung gigi).

Periodontitis merupakan tahap lanjut dari proses peradangan gusi, dimana pada kondisi ini proses peradangan telah menyebar ke jaringan pendukung gigi yang lebih dalam dan menimbulkan kerusakan pada jaringan tersebut.

Biasanya gejala dari periodontitis berupa gigi yang goyang, akar gigi yang terbuka, terasa sakit ketika gigi ditekan atau dipakai mengunyah, gusi terasa gatal atau sakit, dan dapat pula timbul bau mulut ataupun rasa yang tidak enak di dalam mulut. Apabila kondisi ini dibiarkan, maka kegoyangan gigi akan bertambah bahkan gigi dapat terlepas sendiri dari tempatnya.

Periodontitis dapat diatasi dengan perawatan scaling dan root planning untuk membersihkan plak dan karang gigi. Perawatan ini harus diikuti dengan menjaga kebersihan mulut agar proses peradangan tidak terjadi lagi.

Apabila kegoyangan gigi masih tergolong ringan, maka gigi akan kembali kuat dan kokoh dengan sendirinya. Namun, apabila sudah cukup parah maka gigi tersebut harus dilakukan perawatan periodontal lebih lanjut bahkan mungkin perlu dicabut apabila kegoyangan gigi sudah sangat parah.

Untuk akar gigi yang terbuka, biasanya akan menimbulkan kondisi gigi sensitif (linu) ataupun gangguan estetik apabila menyerang gigi depan. Gigi sensitif dapat diatasi dengan menggunakan pasta gigi untuk gigi sensitif, ataupun perawatan lain misalnya penambalan bagian akar gigi. Sedangkan untuk keluhan estetik apabila menyerang gigi depan dapat dilakukan bedah gusi untuk menutupi akar gigi yang terbuka tersebut. Selain itu, ada pula alternatif perawatan lain yang dapat dilakukan oleh beberapa dokter gigi.

Silahkan Mbak Tia mengunjungi dokter gigi untuk melakukan perawatan sedini mungkin. Semakin dini perawatan dilakukan, maka hasilnya pun akan semakin baik dan total biaya perawatan akan relatif lebih murah.

Salam :)

NB: Pertanyaan-pertanyaan yang tidak kami tampilkan akan kami balas melalui email.




Perhatian:
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.



Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan.

Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.


Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Konsultasi Kesehatan 30 Maret 2010”  »»

Rabu, 24 Maret 2010

Apakah Tidur Siang Memang Dapat Membuat Anda Pintar?

nap
Apabila Anda merasa loyo setelah makan siang, sedikit tidur akan dapat membuat Anda lebih segar. Tidak hanya itu, berdasarkan sebuah penelitian ternyata tidur siang dapat membuat Anda lebih pintar.

Semakin lama Anda terjaga, maka akan semakin sulit bagi otak Anda untuk menyimpan informasi baru. Peneliti pun menemukan bahwa tidur siang tampaknya dapat me-refresh memori jangka pendek dan dan memperbesar tempat penyimpanan bagi informasi baru.

Dalam penelitian tersebut, peneliti meminta 39 mahasiswa untuk mempelajari beberapa nama dan wajah di siang hari lalu mencocokkan nama dan wajah tersebut beberapa menit kemudian dan dilakukan lagi pada pukul 6 sore di hari yang sama.

Dari tes tersebut, ternyata kelompok mahasiswa yang sempat tidur siang selama 90 menit pada pukul 2 siang dapat menyelesaikan tes dengan lebih baik dibandingkan kelompok yang tidak tidur siang yang kemampuan memorinya telah menurun drastis.

Namun, apakah tidur siang ini sama efektifnya bagi semua orang?

Neil Kline, seorang board-certified sleep physician, mengatakan tampaknya tidur siang akan lebih menguntungkan bagi mereka yang memang kurang tidur di malam hari daripada mereka yang sudah memiliki jadwal tidur yang sehat.

Kline menekankan bahwa dalam penelitian tersebut obyek penelitian yang dipakai adalah mahasiswa dimana mereka memang biasanya kurang cukup tidur di malam hari. Oleh karena itu, hasil penelitian ini memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan antara mereka yang mendapat tidur siang dengan yang tidak.
nap

Sedangkan bagi orang dewasa yang telah memiliki jadwal tidur yang sehat, idealnya mereka tidak akan merasa terlalu membutuhkan tidur siang. Namun, apabila Anda merasa perlu memejamkan mata untuk beberapa saat maka lakukanlah! Anda tidak perlu menundanya kebutuhan Anda ini sampai malam hari. Yang perlu Anda perhatikan, janganlah Anda meletakkan waktu tidur siang ini terlalu dekat dengan tidur malam, karena kebiasaan ini justru dapat mengakibatkan insomnia dan gangguan tidur lainnya.


Source: Health.com




Perhatian:
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.



Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan.

Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.


Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Apakah Tidur Siang Memang Dapat Membuat Anda Pintar?”  »»

Jumat, 19 Maret 2010

Perbandingan Refrigerant dengan Topical Anesthetic Gel Sebagai Preinjection Anesthetic

oral anesthetic
Ada berbagai metode untuk meminimalisir rasa sakit yang timbul ketika dilakukannya injeksi atau penyuntikan. Diantaranya penggunaan topikal anestesi, memberikan getaran pada daerah jaringan sekitarnya ketika dilakukan penyuntikan, memberikan tekanan pada daerah yang akan disuntik, dan menggunakan mechanical delivery system dalam melakukan proses penyuntikan. Teknik lain yang juga dijelaskan di dalam literatur adalah penggunaan refrigerant.


Selengkapnya...








Perhatian:
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.



Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan.

Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.


Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Perbandingan Refrigerant dengan Topical Anesthetic Gel Sebagai Preinjection Anesthetic”  »»

Kamis, 18 Maret 2010

Konsultasi Kesehatan: 18 Maret 2010

Pertanyaan:
Saya lagi hamil tiga setengah bulan. Karena anak dan suami kena flu saya jadi ikutan kena. Badan demam, pusing, flu, batuk, tenggorokan gatal. Obat tradisional apa yang bisa saya buat untuk mengurangi keluhan tersebut?


Tety (30), Surabaya.

Jawaban:
Yth. Ibu Tety di Surabaya.

Pada dasarnya penyakit flu merupakan penyakit infeksi yang dapat sembuh dengan cara meningkatkan kekebalan tubuh. Gejala batuk dan pilek yang berasal dari infeksi virus flu biasanya akan dapat sembuh dengan sendirinya setelah beristirahat total selama 2-3 hari.

Untuk obat alternatif yang dapat digunakan untuk meredakan berbagai gejala flu, termasuk gejala flu yang dialami ibu hamil diantaranya:
  1. Madu yang dicampur dengan peppermint atau jeruk nipis, lalu diseduh air hangat.
  2. Permen mint atau permen pelega tenggorokan lainnya.
  3. Minyak kayu putih atau balsem mentol untuk mengatasi hidung tersumbat. 
  4. Konsumsi buah-buahan segar yang banyak mengandung vitamin C.
  5. Kencur juga dapat menjadi obat alternatif untuk mengatasi batuk.
Pada saat pilek, biasanya tubuh akan banyak kehilangan cairan. Jangan lupa untuk banyak mengkonsumsi air putih untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. 
 
Perhatikan pula warna dahak, apabila berwarna kuning kehijauan maka segeralah berkonsultasi ke dokter. Karena ada kemungkinan terjadi infeksi yang membutuhkan penggunaan antibiotik untuk mengatasinya. Dokter akan memberikan pilihan obat antibiotik yang tentunya aman bagi ibu hamil.

Salam sehat!



Perhatian:
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.



Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan.

Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.


Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Konsultasi Kesehatan: 18 Maret 2010”  »»

Sabtu, 13 Maret 2010

Perbandingan Efek Menyikat Gigi dan Handpiece Prophylaxis Terhadap Retensi Sealant

pit fissure sealant
Dalam prosedur pit dan fissure sealant, dibutuhkan permukaan gigi yang bersih agar diperoleh hubungan langsung antara etsa asam dan email. Untuk mendapatkan permukaan gigi yang bersih ini, ada berbagai cara yang dapat dilakukan. Namun, apakah semua cara itu memiliki efektivitas yang sama?

Etsa asam perlu berkontak langsung dengan email agar dapat bekerja dengan efektif. Email yang telah di-etsa akan menghasilkan mikroporositas dimana resin-based material akan mengalir ke dalamnya membentuk ikatan mekanis yang akan mempertahankan sealant untuk tetap melekat terhadap email.

Teknik yang biasa dilakukan untuk memperoleh permukaan gigi yang bersih sebelum di-etsa adalah dengan menggunakan rubber cup atau rotary brush dengan pumice yang dijalankan menggunakan handpiece kecepatan rendah. Selain itu, ada pula beberapa operator yang hanya menggunakan sikat gigi untuk membersihkan permukaan gigi sebelum di-etsa.

Dari penelitian yang dilakukan oleh Dr. Kolavic Gray dan rekan-rekannya ditemukan bahwa pada tahun pertama setelah pembuatan sealant, ditemukan bahwa retensi dari metode profilaksis sikat gigi lebih baik daripada metode handpiece. Sedangkan pada tahun kedua sampai kelima mereka tidak menemukan perbedaan tingkat retensi dari kedua metode tersebut. Namun secara umum, penggunaan sikat gigi sebagai metode pembersihan menghasilkan retensi paling tidak sama dengan metode pembersihan menggunakan handpiece.
pit fissure

Menurut Gray dan rekan-rekannya, retensi dari metode pembersihan menggunakan handpiece dapat lebih rendah karena penggunaan pasta pembersih yang mungkin mengandung minyak. Biasanya terdapat pada pasta-pasta yang dipasarkan pada tahun 70-an atau 80-an. Ada kemungkinan pula bahwa masih ada sisa pasta atau pumice di dalam pit dan fisssure yang dapat mengganggu retensi dari sealant.

Source:
Gray, S.K.; et al. A comparison of the effects of toothbrushing and handpiece prophylaxis on retention of sealants. J Am Dent Assoc 2009; 140(1): 38-46.




Perhatian:
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.



Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan.

Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.


Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Perbandingan Efek Menyikat Gigi dan Handpiece Prophylaxis Terhadap Retensi Sealant”  »»

Senin, 08 Maret 2010

Manifestasi Klinis Primary Oral Herpes dan Perawatannya

primary oral hsv
Biasanya pasien dengan infeksi herpes simplex virus primer datang kepada klinisi dalam keadaan full blown kelainan pada oral dan kondisi sistemik. Untuk membedakan dengan lesi multipel akut yang lain, yang perlu kita perhatikan adalah riwayat onset terjadinya penyakit.

Masa inkubasi dari infeksi herpes simplex virus primer umumnya berkisar antara 5-7 hari, namun dapat pula terjadi antara 2-12 hari.

Pasien dengan oral herpes primer memiliki riwayat generalized prodormal symptom yang mendahului terbentuknya lesi lokal 1-2 hari sebelumnya. Hal inilah yang membedakan infeksi ini dengan allergic stomatitis dan erythema multiform, dimana lesi lokal dan sistemik muncul bersamaan. Generalized symptom ini meliputi demam, sakit kepala, malaise, nausea, dan muntah-muntah.

Lesi lokal muncul berupa vesikel kecil yang berdinding tipis dengan inflammatory base (pinggiran ulser berwarna merah akibat inflamasi) yang dapat muncul pada seluruh bagian dari mukosa oral. Dinding vesikel ini mudah sekali pecah dan membentuk lesi ulser kecil bulat dan dangkal. Dengan bertambah parahnya penyakit, lesi ulser ini akan bergabung satu sama lain membentuk ulser yang lebih besar dengan bentuk yang tidak teratur.Tidak adanya riwayat herpes labialis rekuren dan adanya riwayat kontak dengan penderita lain juga dapat membantu kita dalam membuat diagnosis penyakit ini.

Gambaran yang paling penting dari penyakit ini adalah adanya gambaran gingivitis kronis akut generalisata, dimana seluruh gusi dalam keadaan oedem dan inflamasi. Beberapa ulser kecil pada gusi juga dapat muncul. Pada pemeriksaan juga ditemukan inflamasi pada faring posterior, serta adanya pembengkakan dan rasa sakit pada nodus limfatikus submandibular dan serfikal. Pada beberapa kasus, HSV primer dapat pula menimbulkan lesi pada bibir dan wajah tanpa menimbulkan lesi intra oral.

Pada anak-anak, HSV primer merupakan penyakit yang bersifat self limiting. Demam biasanya akan hilang dalam 3-4 hari, sedangkan lesi akan mulai menyembuh dalam 7 sampai 10 hari, walaupun virus akan tetap berada dalam saliva sampai selama 1 bulan setelah onset penyakit.

PERAWATAN
Perawatan pada kasus ringan, cukup dengan perawatan suportif. Perawatan suportif rutin termasuk diantaranya penggunaan aspirin atau parasetamol untuk mengatasi demam dan asupan cairan untuk menjaga hidrasi dan keseimbangan elektrolit.

Apabila pasien kesulitan makan atau minum, dapat diaplikasikan topikal anestesi pada lesi sebelum makan. Topikal anestesi yang dapat digunakan adalah dyclonine hydrochloride 0.5% atau dengan menggunakan larutan diphenhydramine hydrochloride 5 mg/mL yang dicampur dengan milk of magnesia dalam jumlah yang sama.

Untuk kasus berat diperlukan tambahan penggunaan obat. Manajemen infeksi herpes simplex mengalami perkembangan yang signifikan sejak ditemukannya acyclovir. Acyclovir tidak memiliki efek terhadap sel normal namun dapat menghambat replikasi DNA pada sel yang terinfeksi virus.

Selain acyclovir sekarang juga sudah ada obat antiherpes yang baru, valacyclovir dan famciclovir. Kelebihan obat baru ini adalah bioavailabilitas yang meningkat sehingga hanya diperlukan dosis yang lebih kecil untuk mendapatkan perawatan yang efektif.

primary oral hsvPenggunaan antibiotik biasanya tidak diperlukan dalam perawatan infeksi herpes primer, dan penggunaan kortikosteroid merupakan kontraindikasi. Untuk pencegahan infeksi di kemudian hari, nantinya dapat dilakukan vaksinasi menggunakan vaksin HSV yang telah dilemahkan secara genetik.


Source:
Greenberg, M.S.; and M. Glick. 2003. Burket's Oral Medicine: Diagnosis & Treatment. 10th edition.




Perhatian:
Dibebaskan menyalin sebagian ataupun keseluruhan isi blog ini demi kepentingan pendidikan kesehatan bagi masyarakat umum dengan ketentuan mencantumkan alamat link blog ini sebagai sumbernya.



Apabila Anda ingin berlangganan berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat, daftarkanlah alamat email Anda dengan meng-klik kata berlangganan: Berlangganan.

Berita terbaru dari Gigi Sehat Badan Sehat akan langsung dikirimkan ke email Anda.


Kembali ke halaman utama

Lanjut membaca: “Manifestasi Klinis Primary Oral Herpes dan Perawatannya”  »»